Bali Temple

Hallo semua, nah disini tuh aku ngelanjutin tentang pura-pura (tempat suci) yang ada di Bali yaitu
"Pura Samuan Tiga"

http://wijayajournal.blogspot.com/2012/05/ceremonies.html?m=1

Seperti yang kita ketahui, mayoritas penduduk Bali adalah beragama Hindu dengan tempat ibadahnya adalah Pura, sehingga tidak mengherankan pulau kecil yang menjadi destinasi wisata dunia ini dikenal juga dengan pulau Seribu Pura, dan semua wilayah Kabupaten di Bali memiliki sejumlah pura Kahyangan Jagat yang menjadi tempat pemujaan atau bersembahyang seluruh umat Hindu di Bali, salah satu diantaranya adalah Pura Samuan Tiga yang terletak di desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh – Gianyar. Pura ini memang memiliki latar belakang sejarah yang sangat penting akanan tatanan kehidupan masyarakat Bali sampai sekarang ini.
Pura Samuan Tiga Gianyar
Selain dengan latar belakang sejarah berdirinya Pura Samuan Tiga yang menjadi bagian penting akan perkembangan kepercayaan beragama bagi umat Hindu di Bali, pura Samuan Tiga juga merupakan peninggalan bersejarah masa lampau yang mana sebelum dikenal sebagai Pura Samuan Tiga, pura ini sudah berdiri dan dinamakan Pura Gunung Goak dan bahkan ada yang menyebutnya sebagai Pura Batan Bawah, nah semenjak ada pertemuan antar sekte dan menghasilkan kesepakatan barulah tempat tersebut dikenal dengan Pura Samuan Tiga.

Sejarah Awal Pura Samuan Tiga Di Bedulu

Setiap pura Kahyangan Jagat di Bali, tentu memiliki latar belakang sejarah seperti juga halnya Pura Samuan Tiga ini yang merupakan cikal bakal, asal muasal ataupun sejarah awal terbentuknya Pura Kahyangan Tiga dan desa Pekraman di Bali. Di Pura inilah terjadi pesamuan (pertemuan) keputusan dari pertemuan tersebut menyepakati bahwa dewa Tri Murthi adalah Dewa utama yang mereka puja yang terdiri dari 3 Dewa yaitu Dewa Brahma yang diyakini manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi Wasa yang bertugas sebagai Dewa Pencipta, Dewa Wisnu sebagai Dewa Pemelihara dan Dewa Siwa adalah dewa Pelebur.

Berawal dari Bali pada saat itu, yang masyarakatnya menganut banyak keyakinan ataupun sekte, setidaknya ada 9 sekte yang dianut diantaranya; sekte Siwa Sidhanta, sekte Waisnawa, Sekte Brahma, sekte Resi, Sekte Budha, sekte Bhairawa, sekte Ganaptya, sekte Sora dan sekte Pasupata. Begitu banyaknya sekte yang berkembang dan dengan luas wilayah pulau Bali yang tidak begitu besar, sehingga rentan terjadinya gesekan serta konflik antar sekte, percekcokan sering terjadi yang menyebabkan Bali tidak aman dan kacau.
Pura Samuan Tiga di Bedulu
Kekacuan yang sering terjadi tersebut membuat raja yang memerintah pada saat itu yaitu raja suami-istri Sri Dharma Udayana dan Gunaprya Dharmapatni, mengambil langkah kebijakan untuk melakukan pertemuan besar dengan sekte-sekte yang ada, Pura Gunung Goak yang letaknya di dataran tinggi dan merupakan kawasan suci dianggap strategis untuk mengadakan pertemuan besar tersebut, maka dicetuskanlah di pura tersebut sebagai tempat pesamuan, tiga unsur penting yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Siwa, Budha dan Bali Aga.

Dalam pertemuan besar di Pura Samuan Tiga tersebut, pada tahun 1001 Masehi dipimpin oleh Mpu Kuturan (senopati Kuturan) seorang pemeluk Budha aliran Mahayana, beliau adalah seorang penasehat raja Airlangga yang memerintah di kerajaan Kahuripan, Mpu Kuturan juga ahli dibidang agama dan pemerintahan. Dalam musyawarah dengan sekte-sekte serta tokoh agama yang ada berhasil memutuskan serta disepakatinya penerapan konsep Tri Murthi melalui terbentuknya desa Pekraman dengan pura Kahyangan Tiga diantaranya Pura Desa tempat memuja Dewa Brahma, Pura Puseh untuk memuja Dewa Wisnu dan Pura Dalem untuk memuja Dewa Siwa.
Pelinggih di Pura Samuan Tiga Bedulu
Suksesnya pesamuan atau pertemuan dengan tokoh-tokoh agama di Pura Samuan Tiga tersebut yang menyepakati adanya keputusan yang monumental bagi warga Hindu di Bali yang diwarisi sampai saat ini, tentu merupakan tonggak sejarah yang penting bagi perkembangan umat Hindu tersebut, ini tentunya tidak lepas dari tokoh legendaris Mpu Kuturan, sehingga semua sekte bisa bersatu tidak terjadi konflik lagi dan menyatukan hati dan diri sesuai konsep Tri Murthi yang sudah disepakati.
Di setiap desa Pekaraman ada Kahyangan Tiga yang menjadi wadah [emersatu warga desa tersebut, mereka terdiri dari berbagai kelompok masyarakat baik itu beda klan, kasta, wangsa ataupun warna. Jika dalam satu klan atau satu waris dipersatukan dalam lingkungan Pemerajan atau sanggah Kembulan. Untuk itulah Pura Samuan Tiga di Bedulu ini juga untuk mengenang jasa dari Mpu Kuturan dalam mempersatukan masyarakat Bali kala itu.
Sumber : https://www.balitoursclub.net/pura-samuan-tiga-bedulu/

Komentar

Posting Komentar